“Mereka yang pelan, melihat lebih banyak.”

Salah seorang kawan yang suka nongkrong di warung kopi pernah berkata begitu pada saya.

Kawan itu memang tipe orang yang sangat santai. Bila berjalan kaki, ia lambat. Bila mengemas barang, ia tidak grusak-grusuk. Bila naik motor, kecepatannya membuat ngantuk. Ia tipe yang jarang terlambat, sekaligus jarang membuat janji. Ia pribadi yang bebas. Ia dapat berteman baik dengan siapa saja.

Mungkin, kepribadian seorang flāneur mirip seperti kawan saya itu.

Flāneur dan Kegiatan Mengamati Kota

Dalam diskusi tentang kota, istilah flāneur kerap muncul sebagai bagian dari fenomena urban yang unik.

Flāneur adalah istilah yang berakar dari bahasa tua Skandinavia, flāna, yang artinya semacam “kegiatan berjalan kaki di kota tanpa tujuan yang jelas.”

Sebelum pertengahan tahun 1800, kata flāneur masih sinonim dengan “malas”, “tidak produktif”, atau “kurang kerjaan”. Baru pada pertengahan tahun 1800, ia berubah menjadi semacam filosofi.

Kendati seorang flāneur kerap menghabiskan waktu produktif dengan berkeliaran tanpa tujuan, flāneur tidak pernah menganggap kegiatannya itu sama dengan “tidak melakukan apa-apa”.

Dalam jalan kaki yang tanpa tujuan itu, flāneur melakukan banyak hal. Ia menyimak suara, melihat rupa, menghirup aroma, mengamati keramaian dan aktivitas, mengalami ketertarikan dengan hal-hal baru yang ditawarkan oleh warga suatu kota. Flāneur merenung.

Mentalitas seorang flāneur adalah paduan dari rasa ingin tahu sekaligus rasa malas untuk terlibat secara langsung dengan aktivitas manusia di sekitarnya.

Mereka berkeliaran untuk mengamati, bukan untuk melebur dan menjadi bagian dari orang-orang kebanyakan.

Mereka mendekat sekaligus berjarak.

Dengan jarak itu, flāneur tetap mawas diri. Bila mereka larut, misalnya dalam suatu ogoh-ogoh di taman, mereka akan kehilangan diri dan refleksi.

Ya, refleksi! Flāneur mengamati kota untuk menikmati refleksi. Ia bukanlah warga kota dengan aktivitas yang rutin dan lazim.

Flāneur berjalan kaki tanpa tujuan lebih sebagai seorang filsuf atau pekerja seni yang menikmati limpahan ide di setiap jengkal kota.

Flāneur berjalan kaki sebagai cara untuk “membuka diri” agar setiap denyut kehidupan urban yang unik dan antik itu dapat ia resapi sepenuhnya: suara, rupa, gerak, aroma, dll.

Sejak Edgar Alan Poe dan Walter Benjamin mengangkatnya ke dalam diskursus sastra dan filsafat, flāneur diidentikkan sebagai epistemologi baru. Ide berdatangan pada seseorang secara tidak terduga dan dari momen-momen yang tidak disengaja.

Flāneur dikritik sebagai bentuk keterasingan, tapi sifat mawas diri (dengan berperan hanya sebagai pengamat) menyelamatkan flāneur dari konsumerisme kota―yang kerap pekak dan banal.

Flāneur tidak selalu berupa kawan saya yang bergerak dalam scene yang lambat. Flāneur bisa berkarakter seperti detektif yang gesit, bisa pula seperti pemberang yang suka mengomel.

Inti dari flāneurie adalah antusiasme dan kuriositas yang besar untuk mengamati sesuatu. Ia boleh jadi secara langsung merefleksikan pengalaman (melakukan penyimpulan), bisa jadi ia hanya mencicipi pengalaman tanpa refleksi (menunda penyimpulan).

Kota yang Dingin

Flāneur erat kaitannya dengan gagasan tentang “kota”. Lahir di era Victoria, di dataran Eropa yang mulai terpapar modernitas, dan ketika kota-kota besar mulai dijamuri gedung-gedung rakyat, ide tentang flāneur menyatu dengan gagasan tentang “kota” yang dinamis oleh geliat aktivitas manusia.

Apa itu kota? Apa yang seharusnya ada di kota, dan apa yang tak semestinya ada? Dengan apa kota dibangun: batu dan semen, atau manusia?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, saya merasa perlu memperkenalkan pendapat Jane Jacobs, seorang urbanis Amerika yang sangat kritis terhadap kebijakan pembangunan.

Dalam Dark Age Ahead, ia menulis: “Bukan televisi atau obat-obatan terlarang yang menghancurkan rakyat Amerika, melainkan mobil. Karena mobil, jalan raya dan jalan layang melenyapkan tempat-tempat di mana rakyat seharusnya saling melayani.”

Pendapat Jane Jacobs kira-kira berakar pada pandangan bahwa: inti dari sebuah kota adalah komunitas manusia, bukan batu (gedung) yang dingin. Jane Jacobs mencela kota yang dipenuhi proyek pembangunan yang tidak memihak komunitas.

Seharusnya kota adalah hubungan dinamis antar manusia, kemudian antara manusia dan ruang hidupnya. Pembangunan tidak boleh menghilangkan interaksi dan kreativitas, yang menjadi ciri khas urban.

Saya teringat pada kampung-kampung kota di Kota Mataram, seperti Monjok, Dasan Agung, Gomong, atau Karang Genteng. Saya melihat gairah sosial, budaya dan ekonomi di sana.

Komunitas mereka menunjukkan ciri yang semestinya ideal dimiliki oleh penduduk kota: pergaulan yang hangat, kegiatan ekonomi yang beragam, serta event-event kebudayaan.

Pemukiman mereka mungkin tampak padat dan kumuh, tapi ada yang berharga di sana: gairah.

Ciri ideal penduduk kota di atas selalu lahir dari inisiatif warga, tidak didukung atau dipaksa oleh pemerintah. Itu bukti kreativitas dan gairah.

Warga kota bukanlah benda mati: objek bagi pemerintah untuk diatur-atur. Warga kota memiliki “bunga api yang menyala-nyala di dalam dada mereka”, yakni kekuatan intelektual, moral dan energi, untuk mengatur kehidupan sosial, ekonomi dan politik.

Kekuatan itu melahirkan kehidupan yang dinamis.

Kota semestinya mengakui, menghormati dan bersinergi dengan kekuatan tersebut. Kota tidak boleh melewatkan warga dalam rencana pembangunan. Untuk apa kota membangun gedung-gedung yang warga tidak dapat mengaksesnya, baik karena prosedur yang birokratis (baca: berbelit-belit) atau karena bea yang tidak terjangkau?

Jane Jacobs menolak kota yang dingin dan sinis, yang hanya melayani (baca: memberi fasilitas kepada) orang-orang kaya.

Flāneur: Merekam Kemanusiaan di Kota
Flāneur lahir dari kota yang ramah pada warga, yang kebijakan pembangunannya memberi ruang ekspresi pada warga dan merangsang kreativitas sosial, budaya dan ekonomi mereka. Apa yang dapat diperoleh oleh seorang flāneur di sebuah kota yang pemerintahnya berambisi menertibkan warga, pemukiman, perdagangan kaki lima demi semacam citra “bersih dan rapi” yang membosankan? Kota tanpa geliat, mau apa flāneur di sana?

Saya bukan seorang flāneur, tapi saya pernah membudayakan jalan kaki di Kota Malang dan Mataram. Memang perjalanan saya punya tujuan, tapi saya mendapatkan pengalaman berharga yang tidak didapatkan pengendara motor: potret kota yang lebih detil.

Saya melihat secara langsung bagaimana kerak telor dibuat. Saya pernah menemukan seorang pedagang mie kaki lima meminjam motor pelanggannya untuk membeli gas LPG! Betapa dinamisnya.

Saya kira, itulah kota sejati. Di Mataram, dan di Lombok secara umum, dikenal warung kaki lima yang menyediakan nasi bungkus 5 ribuan. Warga kota (tukang ojek, buruh, tukang parkir, tukang becak, pelajar, pegawai kecamatan, pendugem) makan di situ.

Mereka boleh menambah sambal dan sayur sesukanya, gratis, kadang beserta air putih dalam ceret kuningan.

Di sana terjadi obrolan, pertukaran kabar dan budaya. Betapa menyenangkannya!
Saya dapat membayangkan bagaimana flāneur berkeliaran pelan-pelan dan merekam seluruh keunikan karsa dan karya cipta manusia kota, seperti di atas. Seorang flāneur menikmati tarik ulur yang dinamis antara ketegangan dan keceriaan, antara intelektualitas dan kepolosan, antara nilai kekeluargaan dan profesionalitas, atau antara ekonomi dan moralitas. Rekaman itu bak cetak biru yang lebih berharga dari karya arsitek terbaik sekali pun.

Dan … para pejabat pemerintahan kota perlu belajar dua hal. Pertama, ideologi urbanisme. Kedua, menjadi seorang flāneur. Semua itu penting agar mereka tidak sok mendandani kota dengan segala macam proyek yang melulu berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan gairah, kehangatan dan akal sehat juga penting untuk mereka dahulukan. Semua itu agar kota mereka menjadi idaman manusia, bukan idaman ekonom. []

Avatar
Latest posts by AS Rosyid (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *