Drama Korea berjudul “D.P” secara mengejutkan keluar menjadi pemenang dalam Baeksang Arts Awards ke-58, salah satu ajang paling bergengsi di industri hiburan Korea Selatan.

“D.P” menyabet gelar Drama Terbaik dalam kategori Televisi mengalahkan pesaingnya seperti “Twenty-Five Twenty-One” atau akrab disingkat “2521”, “The Reed Sleeve”, “Political Fever” hingga “Squid Game”.

Pencapaian ini tentu cukup mengagetkan, mengingat para nominator di kategori ini tidak bisa dianggap enteng.

“The Red Sleeve” sendiri sempat berada di ranking satu selama tujuh pekan berturut-turut sebagai drama yang paling banyak diperbincangkan.

Begitu juga dengan “Twenty-Five Twenty-One” yang berhasil mencetak rating nasional dengan nilai rata-rata 11,5 persen dan selalu menjadi tranding topic di Twitter pada setiap episode terbarunya.

Ditambah drama “Squid Game”, yang juga banyak diketahui publik melalui keberhasilannya di kancah hiburan internasional hingga menduduki peringkat pertama dalam kategori yang dibuat Netflix sebagai drama paling banyak ditonton.

Melihat persaingan yang ketat di kategori ini, tentu penggemar drakor bertanya-tanya, apa yang membuat seri besutan Han Jun-hee ini istimewa?

“D.P”, Seri yang Mengungkap Potret Suram Wamil di Korsel

Judul “D.P” merupakan akronim dari Deserter Pursuit, salah satu unit di kemiliteran Korea Selatan.

Unit DP bertugas untuk melakukan pengejaran terhadap anggota militer yang melakukan desersi atau lari meninggalkan tugas. Tak terkecuali bagi anggota wajib militer (wamil) yang sedang berada di masa pelatihan selama dua tahun.

Sekadar diketahui, wamil di Korea Selatan memang terkenal paling lama dan paling keras dibanding negara-negara lain yang menerapkan kebijakan serupa. Ini dikarenakan situasi militer dan politik di Korea Selatan yang masih berperang dengan Korea Utara. Bahkan hampir setengah dari jumlah tentara aktif di Korsel merupakan tentara wajib militer.

Bagi penggemar K-Pop dan drama Korsel, tentu istilah wamil sangat familiar. Tapi siapa sangka, di balik kewajiban tugas negara tersebut, tersembunyi potret suram kekejaman terhadap peserta wamil.

Isu tersebutlah yang melatarbelakangi pembuatan serial “D.P”.

D.P resmi tayang di Netflix pada Agustus 2021, dengan pemeran utama Jung Hae-in sebagai Tamtama Ahn Joon-ho, Koo Kyo-hwan sebagai Kopral Han Ho-yul, Kim Sung-kyun sebagai Sersan Satu Park Bum-gu dan Son Seok-koo sebagai Kapten Im Ji-sup.

Terinspirasi dari Kisah Nyata

Dalam salah satu babak cerita dalam drama “D.P”, dikisahkan seorang desertir bernama Jo Suk-bong (Cho Hyun Chul) yang akhirnya melawan dan memukuli habis-habisan seniornya setelah penganiyaan dan kekerasan seksual yang ia alami secara berulang.

Suk-bong lalu kabur dan menggegerkan departermen investigasi karena ia kabur untuk melancarkan rencana pembunuhan terhadap mantan seniornya saat wamil, Hwang Jang-soo (Shin Seung-ho).

Dalam seri tersebut digambarkan, bagaimana Suk-bong menjadi samsak oleh Jang-soo dan teman-temannya. Pelecehan seksual berkali-kali telah membuat Suk-bong tersiksa secara psikis. Di sisi lain, saat Jang-soo yang telah menyelesaikan masa wamilnya, kembali ke masyarakat tanpa mendapatkan sanksi apapun. Pengejaran dan aksi kejar-kejaran berbuntut Suk-bong melakukan bunuh diri.

Di kata-kata terakhirnya, ia mengatakan “Agar ada perubahan, aku harus melakukan sesuatu”. Lalu ia menembak kepalanya sendiri dan mati.

Lalu di cuplikan akhir drama, menampilkan teman dari Suk-bong, yang juga korban bullying, menembak secara brutal teman-teman satu unitnya.

Peristiwa tersebut tak hanya ada di dalam drama. Pada pertengahan tahun 2014, Korsel sempat digegerkan dengan kasus serupa. Lima anggota tentara tewas ditembak oleh rekan satu unitnya. Ia adalah Lim, sersan berusia 22 tahun. Setelah menembak lima temannya, Lim kemudian mencoba bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri. Sayangnya, aksi percobaan bunuh diri tersebut berhasil digagalkan.

Saat itu, tidak ada keterangan pasti dari pejabat militer Korsel mengenai motif penembakan tersebut. Namun, dugaan Lim menjadi korban kekerasan selama di barak semakin mencuat. Hal itu mendorongnya untuk nekat menembak lima kawannya hingga tewas.

Beberapa pekan setelah kasus penembakan tersebut, publik Korsel kembali dikejutkan dengan berita dua prajurit wamil yang tewas gantung diri. Kedua prajurit tersebut ditemukan tewas di barak terpisah. Diduga, mereka juga menjadi “bulan-bulanan” selama menjalani masa militer.

Tidak berhenti di sana. Kasus kekerasan di tubuh kemiliteran Korsel kembali menjadi sorotan setelah seorang tentara muda bernama Yoon, tewas karena sesak nafas selama menjalani pelatihan. Diduga, ia diserang dengan cara ditendang di bagian dada saat makan. Hal itu membuatnya tersendak dan sulit bernafas. Sayangnya, nyawa Yoon gagal diselamatkan saat dibawa ke rumah sakit. Yoon juga telah menjadi korban bullying berulang kali oleh para seniornya.

Kritik terhadap Instansi Militer dan Pemerintah Korsel

Isu perundungan dan kekerasan di Korsel memang telah banyak menginspirasi rumah produksi untuk menjadikannya muatan dalam drama maupun seri. Namun, masih sedikit yang secara intens menyinggung isu kekerasan, penganiyaan dan perundungan di institusi negara sebesar institusi militer. Pemerintah Korsel pun dianggap “tutup mata” mengenai fenomena itu.

Dalam ‘D.P’ menggambarkan bagaimana senioritas yang berlebihan memicu berbagai kekerasan terhadap sesama anggota wamil. Senioritas berdasarkan siapa anggota yang lebih dulu masuk wamil, meski hanya berjarak bulan.

Perundungan secara terus menerus, yang tak jarang disertai kekerasan baik fisik maupun seksual, membuat beberapa tentara wamil nekat kabur (desersi). Kemudian, anggota dari unit DP inilah yang bertugas mencari para desertir lalu membawa mereka kembali ke barak.

Drama “D.P” sempat memicu perdebatan. Beberapa warga Korsel yang pernah mengikuti wamil, mengakui kekerasan tersebut memang ada bahkan menjadi hal lumrah. Beberapa di antara mereka bahkan enggan menonton karena dapat memicu traumanya masa lalu. Namun sebagian lainnya juga menganggap kekerasan yang digambarkan di “D.P” berlebihan dan ia tidak mengalami hal serupa.

Meski begitu, petinggi Korsel pun juga ikut angkat bicara mengenai hal ini. Seperti politikus Lee-Jae Myung yang menyebut, serial “D.P” sebagai gambaran sejarah Korea Selatan yang barbar.

Politikus oposisi, Hong Joon-Pyo, mengatakan bahwa ia sendiri pernah mengalami kekejaman selama wamil dan ia berjanji agar kebijakan wamil secara sukarela akan ditinjau kembali.

Setelah drama “D.P” menuai beragam tanggapan, militer Korsel lalu mengumumkan bahwa pihaknya akan menghapus sistem pelacakan prajurit yang melakukan desersi oleh tentara perpangkat tinggi.

Akting Para Pemain yang Mumpuni

Meski Jung Hae-in gagal membawa pulang piala Pemeran Utama Pria Terbaik Kategori Televisi, namun kualitas perannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Keberanian Jung Hae-in untuk keluar dari zona nyaman patut diapresiasi. Perannya sebagai anggota militer yang dingin namun penuh aksi membuat penonton terkejut dengan citra Hae-in di perannya yang baru.

Sebelumnya, aktor kelahiran 1 April 1988 itu mendapat julukan romance prince setelah ia sukses memainkan peran di berbagai drama bergenre romantis yang membesarkan namanya. Sebut saja “Something in the Rain” bersama lawan mainnya Son Ye-jin, “One Spring Night”, “A Piece of Your Mind” dan terakhir “Snowdrop” bersama lawan mainnya Jisoo BLACKPINK.

Bahkan dalam pidato yang disampaikan Han Jun Hee selaku sutradara saat menerima piala, secara khusus ia menyampaikan apresiasi tinggi terhadap Hae-in karena menjadi “face of D.P”.

Selain Drama Terbaik, kedua aktor dalam drama D.P juga sukses menyabet piala kemenangan. Yakni Koo Kyo-hwan sebagai Kopral Han Ho-yul yang membawa pulang piala Aktor Pendatang Baru Terbaik, serta Cho Hyun-Chul yang berperan sebagai Jo Suk-bong meraih piala Aktor Pendukung Terbaik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *