Dalam seri ketiga diskusi Kolaborasi Warga Mataram (KWM), kali ini menghadirkan obrolan soal Manajemen Coffee Shop dan Peta Ladang Kopi Lokal, Rabu (2/11/2022).

Seperti biasa, acara ini dibuka oleh Robbyan Abel Ramdhon, yang juga bertugas sebagai pemandu diskusi.

Armani Billardhi

Dalam pembahasan, pemateri Diskusi sekaligus Brand Manager MVP Coffee Company, Armani Billardhi bilang, dalam perkembangan industrialisasi kopi di Kota Mataram, lumayan banyak pemilik coffee shop justru malah protes soal tingkat kunjungan pembeli yang susah sekali meningkat.

Kata Billardhi, pemilik coffee shop tidak boleh membanding-bandingkan tingkat pelanggan di suatu daerah dengan daerah tertentu.

“Yang paling benar adalah, pemilik coffee shop mesti belajar mengenai potensi dari suatu daerah yang ditapakinya.”

“Sebelum protes, alangkah baiknya si pemilik coffee shop memperhatikan terlebih dahulu mengenai pelanggan yang akan disasar,” ungkap Billardhi, Rabu, 2 November 2022 malam.

Disinggung mengenai pendapatnya soal program Kolaborasi Warga Mataram (KWM), ia cukup senang melihat program tersebut. Sebab, menurutnya, praktik kolaborasi adalah hal yang paling dibutuhkan sektor industri masa kini.

“Selain itu, tanpa ada proses kolaborasi, masing-masing sektor tidak akan pernah berkembang dan tidak mengetahui cara memperbaiki diri.”

“Dengan adanya praktik kolaborasi, masing-masing pihak diajarkan tentang tata cara untuk melihat diri sendiri lebih jauh dan jernih. Ketika membicarakan bisnis, praktik kolaborasi dapat menggaet konsumen masing-masing pihak,” jelas Billardhi.

Sisi lain dari praktik kolaborasi adalah membangun kesadaran baru mengenai kebutuhan masing-masing pihak.

Praktik kolaborasi dapat meluas hingga ke beraneka kebutuhan. Billardhi menekankan, praktik kolaborasi dapat membuat masing-masing pihak menjangkau sesuatu lebih jauh hingga mungkin akan menciptakan sesuatu yang baru.

“Dari melihat proses Kolaborasi Warga Mataram, saya berharap agar orang-orang yang terlibat di dalamnya melakukan perluasan terhadap materi-materi diskusi.”

“Sebab, masih terdapat banyak unsur dari industri kreatif yang butuh dikembangkan lebih jauh agar tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.”

“Saya mengharapkan agar Kolaborasi Warga Mataram dapat memayungi unsur-unsur tersebut,” tandas Billardhi.

Ibnu Sofyan

Sementara Ibnu Sofyan, Owner Acibara membenarkan ada kelangkaan pada pemenuhan kopi lokal untuk distribusi ke kedai-kedai di Lombok.

Hal itu kemudian membuat proses mengajak publik untuk tahu kopi lokal menjadi terhambat.

Faktornya pun ada banyak, satu di antaranya ladang kopi yang petaknya masih tidak sebesar permintaan pasar.

“Belum lagi kita bicara soal penanganannya, mulai dari hulu ke hilir, yang kemudian mempengaruhi kuantitas maupun kualitas,” sebutnya.

Ibnu juga mengatakan, hampir sulit bagi kedai kopi untuk bisa bertahan tanpa bergantung pada menu lain.

Selain persoalan branding, publik juga perlu diajak kolaborasi untuk menjaga ekosistem ideal, sehingga keberadaan kedai kopi bisa benar-benar berdiri secara independen, dan murni sebagai kedai kopi.

“Teman-teman komunitas juga contohnya, yang bisa kita ajak. Karena banyak elemen yang mestinya ikut merawat ekosistem ini kalau memang ingin ideal. Sebab pengaruhnya ke banyak hal itu bisa bagus,” tandasnya.

Sementara itu, Perwakilan Kolaborasi Warga Mataram, Baron mengatakan, Paerstud dan Hibi Kohi telah bersepakat untuk mendiskusikan tema-tema yang saling berkaitan.

“Nah, sesi pertama, kan, telah membahas tema visual branding yang memiliki hubungan dengan Paerstud. Pada diskusi yang kedua kalinya, kami membahas isu kopi yang memiliki hubungan dengan Hibi Kohi,” ujar Baron, Rabu, 2 November 2022.

Mengenai pemilihan narasumber dalam diskusi mengenai isu kopi, Baron menerangkan, sebenarnya Hibi Kohi dan Paerstud hendak mengundang akademisi atau pun orang pemerintahan yang memiliki konsentrasi pada bidang kopi.

Sebab, Kolaborasi Warga Mataram ingin meluaskan mengenai materi-materi yang akan didiskusikan.

“Namun, karena adanya keterbatasan, kami akhirnya memilih Armani Billardhi dan Ibnu Sofyan. Menurut kami, Billardhi dan Ibnu cukup mewakili soal apa yang hendak kami kejar dalam diskusi yang membahas dunia kopi.”

“Setelah diskusi berlangsung, saya merasa bahwa Billardhi dan Ibnu memang sangat serius dalam melakoni bidang yang mereka kerjakan,” jelas Baron.

Ke depannya, Kolaborasi Warga Mataram akan melaksanakan tiga atau empat program diskusi, yang nantinya akan diakhiri dengan gelaran penutup.

“Kami harap program Kolaborasi Warga Mataram tidak dilakukan oleh Hibi Kohi dan Paerstud saja, melainkan terdapat pihak-pihak yang dapat melanjutkannya,” pungkas Baron.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *