Datuk Asysyaekh Tuan Guru Haji (TGH) Ahmat Tretetet Bin Tuan Guru Haji (TGH) Umar Kelayu Lombok Timur, wafat pada hari kamis tanggal  19 Desember 1985.

Begitu tulisan yang tertera pada papan informasi di makam Karang Kelok, Monjok Barat, Kota Mataram.

TGH Tretetet, demikian ia dikenal. Julukan itu konon berasal dari tawanya yang renyah dan terdengar seperti daun kering terbakar hingga berbunyi “tretetet”.

Semasa hidupnya, TGH Tretetet diceritakan bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain hanya dalam waktu sekejap.

Perjalanan magis itu kerap dilakukannya ketika berdakwah, “mengislamkan” orang-orang yang tak sengaja ditemuinya.

Dar, penjaga makam TGH Tretetet yang sudah bertugas sejak puluhan tahun, menceritakan hal-hal menarik mengenai sosok beliau.

“Dari Lombok Timur, Malaysia, Banyuwangi, Jawa, Palembang, dan Medan,” sebut Dar, menceritakan asal daerah para peziarah yang sempat diingatnya, Senin (11/4/2022).

Dulu, katanya, pada hari TGH Tretetet dikebumikan sampai beberapa minggu setelahnya, area makam seluas kurang lebih satu hektar itu dipenuhi peziarah.

“Sejak saat itu, peziarah tidak pernah sepi. Ada yang mengaku jadi murid beliau, keluarga, dan sebagainya,” kata Dar.

TGH Tretetet bukanlah seorang ulama yang mendakwahkan Islam melalui pondok sebagaimana ulama-ulaman nusantara pada umumnya.

Ia singgah dari satu tempat ke tempat lain dan tidak banyak berbicaraa saat berjalan.

TGH Tretetet kerap menghampiri masyarakat yang kebetulan sedang duduk-duduk di halaman rumah mereka atau petani yang beristirahat di sawah.

Konon, ia memiliki karomah dengan berada di dua tempat yang berbeda sekaligus dan di waktu yang bersamaan. Oleh sebab itu, ia bisa memiliki murid hampir di seluruh nusantara.

“Ciri-ciri beliau, selalu mengikat sarung dengan kulit pohon pisang yang sudah kering. Lalu berjalan saja sampai tiba-tiba duduk bersama kami, lalu tiba-tiba menghilang,” tutur Dar, yang pernah menyaksikan kehadiran sosok tersebut.

Selain ciri-ciri fisik yang disebutkan Dar, menurutnya, ada karakter lain yang juga menonjol dari TGH Tretetet.

Yakni kepribadiannya yang suka bergaul dengan beragam kelompok tanpa memandang latar belakang agama.

“Datuk (TGH Tretetet) suka bergaul. Mau orang itu Hindu, Kristen, Buddha. Beliau itu lucu, dan tidak pandang bulu atau agama,” terangnya.

Karena kebersahajaannya itulah, banyak ummat dari agama lain datang berziarah ke makam beliau.

“Makam ini terbuka bagi siapa saja yang mau berziarah, bahkan pintunya tidak kita gembok,” ujar Dar.

Makam yang selalu terbuka untuk umum selama 24 jam ini pun, kerap dikunjungi peziarah pada malam hari.

Tak jarang sebagian dari mereka menginap di gazebo yang disediakan Dar di belakang makam TGH Tretetet.

“Silakan kapan saja, asalkan jaga kebersihan,” ucapnya, seraya menunjuk papan mengenai informasi tentang kebersihan.

Di sana tertulis: “Permakluman, para peziarah makam dilarang membawa kemenyan, dupa atau tabur bunga. Jagalah Kebersihan.”

Makam TGH Tretetet biasanya banyak dikunjungi peziarah saat bulan Ramadan maupun pada momen-momen ibadah haji.

Tak jarang juga, tokoh publik atau politisi, juga datang ke tempat itu untuk berziarah.

“Kalau orang-orang seperti itu (politisi atau pejabat), masuknya lewat gerbang samping, enggak mau dilihat datang dari depan,” tuturnya.

Mengenai apa tujuan orang-orang datang ke makam selain untuk berziarah, Dar tidak memberikan tanggapan panjang.

“Itu kepercayaan masing-masing,” katanya.

Seiring cerita tentangnya berlabuh ke berbagai penjuru, para peziarah pun terus berdatangan, hari demi hari, ke makam TGH Tretetet.

Robbyan Abel R

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *