Kolaborasi Warga Mataram (KWM) gelar diskusi bertajuk Dengung Narasi, Pabrik Narasi di Pasar Digital.

KWM secara rutin digelar setiap pekan di Hibi Kohi Mataram dengan bahasan isu yang beragam.

Kali ini, KWM mencoba mengulas bagaimana narasi dilibatkan sebagai bagian penting pembentukan sebuah agenda dalam digital marketing.

Untuk membahas tema itu, gerakan yang merupakan hasil kolaborasi Paerstud dan Hibi Kohi ini menghadirkan Baiq Vira Safitri, dosen di Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Mataram sekaligus seorang penulis buku.

Narasumber selanjutnya adalah Bagus Krisna, berprofesi sebagai Creative Director di Kingsman dan giat sehari-hari melakukan kerja digital marketing.

Serta musisi Paris Hasan, yang nantinya bertugas menutup acara diskusi KWM edisi tiga ini dengan penampilan musik.

Pada awal diskusi, kedua narasumber memberikan padangan masing-masing dengan berangkat pada latar belakang.

Vira, misalnya, menyebut penyusunan narasi itu penting, karena selain menjadi representasi brand, juga sebagai peluru mengejar efek dari konsumen.

“Tidak hanya supaya orang mau beli prodak dari brang kita, tapi bagaimana narasi yang kita bawa membekas secara emosional pada para konsumen,” kata Vira, Senin (14/11/2022).

Ia juga menekankan, agar para agen kreatif tidak ragu untuk berkreasi saat membangun proyek-proyek inovatif yang melibatkan narasi.

Baginya, bila pun narasi yang dibawa tidak sampai ke konsumen atau gagal, itu hanya fase kecil untuk memulai hal baru.

“Bagi saya kegagalan hanya dua. Pertama gagal dengan melihatnya sebagai keselesaian, kedua gagal dengan melihatnya sebagai jalan memulai hal baru,” kata Vira.

Lebih teknis, Krisna mengatakan, distribusi narasi di perangkat digital kini semakin punya banyak instrumen.

Pasalnya, media sosial seperti Instagram katakanlah, telah memperkaya diri dengan berbagai fitur.

“Dari fitur-fitur yang banyak ini, kita bisa menyusupkan macam-macam narasi,” ucapnya.

Ia pun sepakat bahwa narasi hadir tidak hanya sebagai umpan agar orang-orang mau membeli prodak sebuah brand.

Tetapi narasi juga bisa dihadirkan untuk menciptakan kepercayaan yang menurutnya, akan mengikat secara personal dengan para pelanggan.

“Karena itu akan membantu kita tidak hanya menggaet personal, juga bisa menyasar komunitas.”

“Kepercayaan itu kalau sudah terbangun, bisa mendatangkan dukungan apabila kita menggelar acar-acara. Orang-orang bisa banyak ikut terlibat dalam acara kita, selain untuk mendukung juga ikut memeriahkan,” ucapnya.

Forum ini juga turut dimeriahkan oleh partisipasi para peserta diskusi dalam menghidupkan pembahasan.

Soal narasi, juga dibicarakan melalui perspektif fotografi, musik, hingga penyelenggaraan event.

Ketika menutup diskusi, Vira mengajak peserta diskusi untuk tidak ragu memulai hal baru.

“Misalnya menulis,” katanya.

“Untuk melatih kemampuan kita pada hal-hal baru, terutama membantu kita untuk menguasai dasar-dasar ilmu berkomunikasi.”

Sementara Bagus, berharap KWM bisa berumur panjang dengan ragam kolaborasi. Kemudian diskusi-diskusi semacam di atas, bisa membuka ladang pegetahuan baru untuk publik.

“Benar kata Mbak Vira, semua ini akan membantu kita memahami cara berkomunikasi. Dan kemampuan itu menjadi penting di tengah perkembangan kemajuan teknologi seperti sekarang.”

“Saya percaya, orang yang bisa beradaptasi, kelak akan menjadi orang sukses,” pungkasnya.

Acara kemudian ditutup oleh penampilan musik dari musisi Paris Hasan, yang pada malam itu membawakan tiga lagu.

Soal diskusi malam itu, Paris Hasan berkomentar singkat.

“Narasi adalah hal penting sebagai landasan kita mempresentasikan diri. Juga sebagai hal penting yang harus dibaca keberadaannya di era ini,” ungkapnya.

lasingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *