Kolaborasi Warga Mataram yang diinisiasi Paerstud dan Hibi Kohi menggagas sesi diskusi Realitas Sinema sekaligus menonton bersama film “Jamal” karya Heri Fadli, pada Jumat, 9 Desember 2022 di Hibi Kohi, Kota Mataram.

Sesi diskusi tersebut kemudian menyisakan narasi bahwa film atau produk serta karya berbasis industri kreatif memang telah layak dimonetisasi.

Wakil Ketua Bidang UMKM, Koperasi dan Ekonomi Kreatif Kamar Dagang Indonesia (Kadin) NTB, Anas Amrullah mengatakan, pegiat-pegiat film mesti menyiapkan sesuatu yang di luar proses produksi, yaitu distribusi dan pemasaran film-film yang telah diproduksi. Ia mengajak para sineas untuk memikirkan solusi agar film-film yang telah diproduksi dapat dikonsumsi oleh banyak orang.

“Pulau Lombok sangat memiliki talenta untuk terus berkembang dalam sektor industri kreatif. Namun, pihak pemerintah hanya baru menengok tiga dari 17 sub sektor industri kreatif, yaitu kuliner, fesyen, dan kerajinan. Padahal, film, musik, seni pertunjukan, fotografi, dan videografi sudah sangat mungkin untuk terus dikembangkan,” ujar Anas, Jumat, 9 November 2022.

Oleh karena itu, Anas menekankan agar pelaku-pelaku industri kreatif mesti mengenalkan produk-produknya kepada khalayak umum. Namun, tidak dapat ditampik bahwasannya mengenalkan produk-produk industri kreatif yang kurang diperhatikan oleh pemerintah memanglah sulit. Namun, Anas menyarankan agar para sineas dan pelaku-pelaku industri kreatif mesti lebih giat lagi dalam bekerja.

Menurutnya, ekosistem kreatif di Pulau Lombok memang tengah dibangun. Harus diketahui bahwa terdapat lima pilar ekosistem kreatif, yaitu pemerintah, pelaku kreatif, akademisi, komunitas, dan media. Setelah ekosistem terbangun kemudian terbentuk, Anas meyakini bahwa permintaan akan produk-produk industri kreatif perlahan-lahan pasti meningkat.

“Film dapat menjadi media komunikasi. Sampai saat ini, begitu banyak program pemerintah. Namun, saya berpendapat bahwa pemerintah tidak membangun pola komunikasi yang tepat sehingga program-program tersebut tidak tersampaikan dengan baik. Pemerintah harusnya menyadari bahwa generasi masa kini sangatlah bergantung pada aspek digital dan visual, maka film dapat menjadi media yang paling tepat untuk berkomunikasi,” jelas Anas.

Selanjutnya, Anas menerangkan, pemerintah memang belum terlalu bergerak untuk meningkatkan daya konsumsi film. Hal tersebut diprakarsai oleh pemerintah belum terlalu melihat produk-produk industri kreatif, terlebih yang bergerak di sektor-sektor kecil.

Oleh karena itu, manakala Anas mengetahui bahwa Paerstud dan Hibi Kohi menggagas Kolaborasi Warga Mataram, ia sangat senang dan tertarik. Sebab, ia merasa bahwa ruang-ruang seperti Kolaborasi Warga Mataram dapat menjadi ruang atau wadah untuk makin mengenalkan kepada masyarakat perihal produk-produk dari industri kreatif.

“Selain itu, saya menyarankan kepada pelaku-pelaku industri kreatif yang tergabung dalam komunitas agar makin sering memperkenalkan produk atau pun karya mereka kepada masyarakat. Harus diketahui bahwa sektor pariwisata akan terus beririsan dengan sektor industri kreatif. Maka, menggarap sektor industri kreatif memang sangat potensial untuk terus dikembangkan,” tandas Anas.

Sementara itu, Penulis, Sutradara, dan Director of Photography Film “Jamal”, Heri Fadli mengatakan, tugas dari para pembuat film bukan hanya untuk membuat film belaka, melainkan mengedukasi penonton dengan memberikan tontonan-tontonan yang penuh dengan nutrisi baik.

“Marilah membuat dan menonton film yang bukan hanya sekadar untuk membuat orang untuk tertawa,” ajak Heri.

Heri berharap agar ruang-ruang pemutaran film di Pulau Lombok makin banyak dibuka. Pada dua atau tiga tahun mendatang, ia sangat berharap agar penonton di Pulau Lombok makin banyak yang mengapresiasi film-film lokal.

“Apakah akan dipuji atau dikritik, itu hanyalah bagian dari proses berkarya,” terang Heri.

Film “Jamal” memang telah kerap kali diputar di Pulau Lombok. Namun, Heri menyukai sesi pemutaran di acara Realitas Sinema yang digagas oleh Kolaborasi Warga Mataram. Sebab, sesi diskusi Realitas Sinema fokus membahas mengenai motif penciptaan film “Jamal”.

Dari film “Jamal”, Heri ingin mengajak orang-orang untuk kembali berpikir mengenai fenomena buruh migran. Namun, ajakan utama Heri adalah jangan pernah menjadi buruh migran ilegal.

Lebih lanjut, Heri menceritakan bahwa pihaknya pernah memutarkan film “Jamal” di hadapan para buruh migran. Seusai film, hampir seluruh buruh migran yang menyaksikannya menangis tersedu-sedu. Sebab, para buruh migran memang benar-benar paham mengenai konten di dalam film “Jamal”.

“Sebenarnya, apa yang hadir di dalam film “Jamal” merupakan keresahan personal dalam melihat fenomena sosial. Saya ingin banyak orang lebih memperhatikan fenomena buruh migran. Sebab, manakala manusia melihat sesuatu di dalam layar, itu akan terasa sangat berbeda daripada apa yang dilihatnya dalam realitas,” terang Heri.

Secara estetika, Heri cukup puas dengan film “Jamal”. Namun, dari sisi penghargaan yang diraih, film “Jamal” memang telah benar-benar melampaui ekspektasi Heri.

Dalam film selanjutnya, Heri akan membahas isu perubahan iklim serta film dokumenter pendek yang membahas isu kultur populer. Namun, ia akan terus mencoba untuk mengeksplorasi mengenai buruh migran.

“Mudah-mudahan saya dapat menyelesaikannya di tahun depan,” pungkas Heri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *